Kebebasan Pers Indonesia Dibawah Kamboja

Kebebasan pers di Indonesia menyedihkan. Dalam indeks kebebasan pers versi Reporter Without Borders, Indonesia berada di urutan ke-100 dari 167 negara.

Kran kebebasan informasi yang mulai terbuka pasca reformasi 1998, bukan berarti pers bisa merasakan kebebasan. Jumlah media massa seperti koran misalnya, memang bertambah jumlahnya. Bahkan demi korannya laku, sampai-sampai dijual Rp 1000 tiap edisi. Cara itu belakangan juga ditempuh koran yang sudah punya nama macam Kompas dan Koran Tempo. Televisi juga bertambah. Tiap daerah kini berlomba-lomba ingin memiliki televisi lokal. Belum lagi jumlah radio yang makin berjubel, dan saling tumpah tindih berebut gelombang siaran.

Indikator kuantitas itu tentunya bukan ukuran kebebasan pers. Menjamurnya media di Indonesia hanya euforia setelah bertahun-tahun pers mengalami tekanan. Apalagi jaman Orba dulu, yang namanya Departemen Penerangan, atau Pusat Penerangan Angkatan Darat (Puspenad) jadi momok menyeramkan pers Indonesia. Salah ngomong atau salah tulis kala itu, maka siap dibredel adalah resiko yang harus diterima. Meskipun saya tidak tahu persis tentang “kegarangan” Deppen dan Puspenad kala itu, sebab jaman itu saya belum jadi jurnalis.

Indeks kebebasan pers tahun 2007 yang dirilis oleh Reporters Without Borders menempatkan Indonesia di urutan ke-100 dari 167 Negara di dunia. Posisi ini sedikit lebih baik dari posisi tahun 2006 di urutan ke-103. Namun, sebetulnya urutan itu fluktuatif juga. Ditarik 5 tahun kebelakang; pada tahun 2002 Indonesia berada di urutan ke-57, setahun berikutnya turun ke-110, dan makin turun ke-117 pada tahun 2004. Tahun 2005 membaik di urutan ke-102, lalu tahun 2006 turun selangkah di urutan ke-103.

Indonesia memang masih lebih baik dari Malaysia (124) dan Burma (164), bahkan dibanding negeri Paman Sam yang mengklaim negara demokrasi sekalipun -AS urutan ke-111. Tapi peringkat Indonesia ternyata masih kalah dari Kamboja (85), negara yang memperoleh urutan tertinggi dari Asia Tenggara.

Tidak jelas apa yang menjadi ukuran untuk menentukan urutan ini. Tapi, sekilas dari apa yang dijelaskan, nampaknya faktor kualitas jurnalis semisal hasil karya jurnalistik, tidak menjadi soal utama. Faktor kekerasan dan ancaman terhadap jurnalis saat menjalankan tugasnya lebih menjadi faktor utama penilaian.

Berikut urutan untuk negara-negara di Asia Tenggara:

Kamboja (85)

Timor Leste (94)

Indonesia (100)

Malaysia (124)

Filipina (128)

Thailand(135)

Singapura (141)

Laos (161)

Vietnam (162)

Myanmar (164)

Rz, kebebasan-pers-itu-kebebasan-bersuara

Iklan

11 thoughts on “Kebebasan Pers Indonesia Dibawah Kamboja

  1. bahh…kau dapat info dmn bro?

    tapi bener juga itu. kebebasan pers macam mana bisa terwujud, kalau kesejahteraan para pekerja pers dibawah standar.

  2. ya kalau dari ukuran kuantitas, saya yakin jumlah koran di kamboja lebih sedikit ketimbang Indonesisa. tapi apa yang bisa membuat Kamboja lebih baik dari Indonesia? AS nampaknya juga gak bagus-2 amet….

  3. Nah, ini yang ane kagak sepakat….
    Indeks kebebasan pers Indonesia kok di bawah Kamboja ama Timor Leste??? 😯

    Yang jadi tolak ukur penilaiannya apa? Ane kira kuantitas kagak bisa dijadikan sebagai salahsatu tolak ukur. Pers kita sekarang jauh lebih bebas, bahkan mungkin bisa disebut kebablasan. Ane curiga, peringkat kita seperti ini karena pengaruh kasus dimenangkannya gugatan pak Hart o atas majalah Time, ama kasus penolakan terhadap majalah Playboy…

    Sebagey warga negara, ane objektif menilai kalo pers sudah jauh lebih bebas… Sumpeh… :mrgreen:

  4. Mya bilang sih ya, pers kita udah bebas skrg. ga da lagi tuh bredel sana bredel sini. tapi ya emang, kayak kasus jurnalis infotainment, mereka kadang menafsirkan kebebasan pers kebabalsan. masa’ jurnalisme ngusik-ngusik aib orang. Mya ga setuju kalo ada istilah jurnalisme infotainment ah!

    emm…soal ancaman saat jurnalis menjalankan tugas, kayaknya semua udh maklum deh. ya begitu kalo jadi jurnalis.

  5. sbtuLx apa siy tolak ukur kebebasab pers??
    apa bner kbebasan pers di indonesia sebegitu menyedihkannya??
    bnyak versi yg aku temukan ttng mslah ini. .
    Tlng masukannya ya. .

  6. kalau upah jurnalis yg layak brp?

    baca di detik katanya 4,1 juta. setuju gak??

    **********

    layak atau tidak, tergantung dari beban kerjanya.

    saya pada posisi setuju, meski bukan anggota AJI lho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s