Momoye


Kamar nomor 11 Asrama Tlawang tidak mungkin dilupakan Momoye. Di kamar itu, 65 tahun silam, Momoye belia terpaksa mengubur dalam-dalam impiannya sebagai pemain sandiwara. Ia dipaksa menerima kenyataan sebagai penghuni rumah bordil, melayani hasrat seksual tak kurang dari 5 tentara Jepang di Kalimantan Selatan tiap harinya.

Ribuan Momoye lainnya bernasib serupa. Mereka awalnya diimingi meneruskan sekolah, bekerja, atau menjadi pemain sandiwara seperti Momoye. Kenyataannya, toh mereka hanya menjadi budak seks tentara Jepang.

Itulah sepenggal kisah seorang ibu di Indonesia. Ibu yang satu ini mungkin tak banyak yang kenal. Memang dia bukan pahlawan. Tapi dia “pahlawan” bagi ratusan wanita yang senasib dengannya. Menjadi budak seks di jaman pendudukan Jepang tahun 1942-1945.

Tahun 1995, Ibu yang bernama asli Mardiyem ini berangkat ke Jepang, berjuang agar isu jugun ianfu diperhatikan forum internasional. Setahun kemudian, atas undangan seorang dosen di Jepang, ia bergerilya dari satu kampus ke kampus lainnya menyosialisasikan isu jugun ianfu.

Keinginan Ibu ini sederhana, Jepang meminta maaf atas kelakun biadabnya semasa perang dunia ke-II itu. Mengakui jugun ianfu bukanlah praktek pelacuran, tapi sistem perbudakan seks sistematis demi kepentingan pemenangan perang tentara Jepang.

Sayang Tuhan berkehendak lain. Keeinginan Ibu ini belum tercapai, hingga ia terlanjur menghembuskan nafas terakhir di usia 79 tahun. Wafat di sebuah kampung kecil di Yogyakarta pada tanggal 20 Desember 2007, dua hari sebelum kaumnya akan merayakan Hari Ibu.

Rz, selamat-hari-ibu

Iklan

14 thoughts on “Momoye

  1. 😦

    beraaat… menyedihkan…
    itu yang jelas terasa saat bercerita tentang jugun ianfu…
    entahlah… karena sapa pun tahu betapa berat derita mereka.

    btw, tulisannya bagus…
    dan makasih udah singgah…. 🙂

  2. Ass,semoga momoye muda baru mengisi perjuangan bangsa ini yang kian terpuruk dan semoga momoye tenang di alam sana amin.salam kenal makasih udah main ke gubuk saya dan memberikan komentnya yah yuk jalin silahturahmi bersama….Wassalam.

  3. postingan yang apik, menyentuh dan peduli,
    Mungkin ada lagi ‘Mardiyem2’ lain ditiap tempat dimanapun di tanah- air ini barangkali,
    Yang berjuang terus tanpa henti,
    Demi hal- hal yang mungkin saja kita anggap kecil padahal begitu berarti,

    Sayang hal- hal begini luput dari perhatian sering- kali,
    Kalah oleh cerita- ceria seperti bagaimana dapat begitu kayanya Aburizal Bakri,
    Mardiyem telah pergi sebelum hari Ibu kemarin ini,
    Ya Alloh ya Robbi, semoga segala dosa dan kesalahannya Engkau ampuni,

  4. masih banyak mardiyem lain diluar sana yang bahkan gak pernah di ekspos sama sekali.
    jugun ianfu, mestinya dimasukin dalam kurikulum sejarah ya?

    Rz, mestinya begitu. mungkin kesulitannya cari narasumber ex jugun ianfu

  5. salah satu wanita indonesia terhebat…salut….momoye sdh tiada smoga arwahnya di terima d sisi tuhan,,,saat ini yg prlu d lakukan adalah menuntut pemerintah jepang atas segala kerugian baik lahir maupun bathin…n kita hrs meluruskan sejarah bahwa jugun ianfu bukan pelacur tapi wanita yang d paksaa n merupakan korban dr sebuah jaman pemerintahan di ms lalu ….smoga ini menjadi pelajaran brharga tuk generasi muda n masyarakat indonesia khususnya.tx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s