Global vs Lokal

Prolog

Pembicaraan mengenai Globalisasi, disadari atau tidak, akan menggiring kita pada pemahaman tentang sesuatu yang berasal dan identik dengan barat (western). Western oleh sedemikian sedikit kalangan – terutama para pemikir Amerika- diakui sebagai puncak peradaban. Sebagai prototype baru peradaban dunia yang menafikkan nilai-nilai peradaban dunia lainnya.

Sementara Lokal-(isasi), hadir sebagai sebuah konsep peradaban yang menjadi counter-opinion, bahwa tak selamanya Globalisasi –yang menjadi konsep identitas baru peradaban dunia – adalah sebuah nilai-nilai peradaban yang sempurna dan bisa berlaku secara universal.

Kenyataan paradoksal ini yang kemudian menyembulkan sebuah ide, yakni, betulkah upaya membentur-benturkan (Clash) antara Globalisasi dan Lokalisasi, yang kemudian termanifestasikan sebagai sebuah konflik Barat-Timur, adalah strategi hegemonik Barat dalam membentuk Peradaban baru dunia.

Seperti tesis Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order, bahwa pada saatnya akan terjadi benturan antar beberapa peradaban di dunia. Hanya saja kita harus memikirkan pula kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pasca benturan. Bahwa sebuah benturan akan menghasilkan satu pihak yang kalah dan hancur terhadap pihak lain yang kemudian menjadi pemenang, atau semua pihak yang berbenturan akan hancur semua dan melebur menjadi satu bentuk baru.

Perlu diingat pula, bahwa reaksi panas yang mengemuka pasca Huntington mempublikasikan tesis nya tentang benturan peradaban, yang dilancarkan oleh para intelektual humanis dan kaum cendekiawan bahkan agamawan yang kebanyakan dari golongan islam, adalah karena tesis Huntington dianggap provokatif dan spekulatif dan bahkan berpotensi menimbulkan pecahnya perang dan membahayakan perdamaian dunia.

Penyebabnya adalah asumsi yang dibangun oleh Huntington untuk menguatkan tesis nya itu, yang kemudian memicu kritik keras, adalah keyakinannya bahwa benturan peradaban masa depan akan terjadi karena tiga hal pokok : hegemoni-arogansi Barat, intoleransi Islam, dan fanatisme Konfusius.

Globalisasi dan Hegemoni Barat

Globalisasi adalah fenomena paradocs-chaotic kemanusiaan pasca zaman pencerahan. Seperti apa yang diungkapkan Michel Foucault sebagai ungkapan pesimisme-nya atas modernitas, bahwa sisi gelap dari modernisme telah mengubur kebebasan otonom manusia (the end of man).

Alur cerita globalisasi terakhir dalam skenario panggung peradaban kekinian, telah membeberkan kepada kita semua bahwa klaim Amerika sebagai polisi dunia, sang teladan demokrasi dan figur pencerahan peradaban penyemai perdamaian, tidak lebih dari propaganda mitos modernitas yang dihembuskan untuk menguatkan simbolisasi Amerika sebagai penguasa Tatanan dunia baru. Barat, yang diwakili oleh Amerika, berhasil meneguhkan wacana dominasinya diatas pluralitas suku, ras, bangsa, ideologi dan agama tanpa menyisakan ruang-ruang toleransi.

Identitas peradaban diarahkan pada semua yang berbau barat. Seolah bahwa apa yang dihasilkan oleh barat yang kemudian diklaim sebagai produk modernitas, adalah sesuatu yang baik dan patut ditiru. Sementara nilai-nilai asli peradaban lain, semisal Islam, Konfusius, Hindu, Afrika, dan lainnya, dianggap sebagai sesuatu yang out of date, ketinggalan zaman.

Dikotomi seperti itulah yang kemudian bisa pula dipahami sebagai strategi Barat dalam mengusung globalisasi sebagai konsep peradaban baru. Indikasi menguatnya dominasi dan hegemoni barat atas peradaban lain bisa dipahami dalam realitas politik dunia masa kini, yaitu konfigurasi politik global yang semakin menunjukan kalau globalisasi telah menjadi kekuatan Neo-kolonialisme politik, ekonomi, dan budaya.

Dan globalisasi-yang sarat akan nilai budaya barat- pun sukses menjelma sebagai sebuah bentuk baru penjajahan barat atas negara lain, melalui ketergantungan ekonomi, budaya, dan bargaining position politik luar negeri.

Konsep Pasar Dunia misalnya, konsep ini telah membawa sebagian negara, kebanyakan negara maju (barat), menjadi penguasa dan pemain utama dalam bisnis dan keuangan dunia. Belum lagi dampak industrialisasi yang semakin menggerus negara berkembang, yang kebanyakan adalah bekas negara terjajah untuk bangkit, karena tertinggal dan didikte secara ekonomi oleh negara barat.

Lokalisasi dan Gerakan Sub-altern

Lokalisasi bukanlah suatu pemahaman yang berusaha melanggengkan warisan peradaban tradisional, namun lebih sebagai wacana menghargai identitas orisinal suatu peradaban tanpa menafikkan bahwa peradaban dunia terus berjalan dan berubah sehingga perlu proses adaptasi dan akulturasi.

Bagi mereka masyarakat negara-negara yang pernah menjadi korban kolonialisme (kaum terjajah), lokalisasi berperan sebagai sebuah counter-discourse terhadap pendefinisian kaum kolonial terhadap diri dan identitas mereka pasca era kolonialisme yang terus berlanjut hingga kini. Pada posisi itulah lokalisasi hadir untuk mendekonstruksi asumsi-asumsi dan wacana-wacana yang dikembangkan oleh kaum kolonial yang telah mapan dalam memori publik kaum terjajah.

Lokalisasi kemudian menjelma sebagai sebuah kesadaran dan Sub-altern movement untuk melepaskan diri dari kolonialisme bentuk baru yang tidak lagi berupa imperialisme fisik mengangkat senjata, namun berupa penjajahan kebudayaan, ideologi, bahkan pemaknaan diskriminatif pada kaum terjajah yang menyulitkan mereka untuk bangkit dan berdiri sejajar dengan anak-cucu mantan majikan nenek moyang nya dahulu ketika negaranya masih terjajah.

Gerakan sub-altern harus semakin menderaskan gelombangnya pada usaha melakukan redefinisi identitas diri dan peradaban kaum terjajah. Mereka kaum terjajah harus menemukan dan mendefinisikan sendiri dirinya sebagai sebuah “bangsa”. Mengapa harus “bangsa”, mengutip pendapat Ben Anderson, Bangsa adalah sebuah masyarakat yang dikhayalkan, sebagai “imagined community”, yang berfungsi sebagai kekuatan resistensi terhadap kekuasaan hegemonik kolonialisme yang mendominasi masyarakat yang dimaksud (baca: kaum terjajah).

Mendefinisikan mereka sebagai sebuah bangsa secara substansi –bukan secara formal dalam penyebutan bangsa suatu negara– membutuhkan waktu yang panjang. Dengan pertimbangan bahwa efek kolonialisme yang melanda kebanyakan negara Dunia ketiga (negara berkembang), yang telah mengalami waktu penjajahan yang cukup lama beratus-ratus tahun. Efek kultural terhadap pemahaman kolonial begitu merasuk dan mengakar jauh di memori budaya kaum terjajah. Sederhananya, mereka masih meyakini tentang keagungan dan keunggulan budaya barat, dan merasa inferior tampil dengan budaya dan identitas asli mereka.

Mahatma Gandhi seorang revolusioner-kooperatif di masa kolonialisasi India oleh Inggris, adalah satu contoh kaum sub-altern yang mampu berbicara kala itu dan diteladani hingga kini. Gandhi yang terkenal dengan konsep “anti-materialisnya” dan “anti-baratnya” seperti ahimsa, swadesi, dan satyagraha, telah menunjukkan bahwa mereka mampu “melawan” dengan wacana tandingan atas kuasa negara (Inggris kala itu). Senada dengan itu, Robert Young dalam bukunya Postcolonialism : An Historical Introduction, mengungkapkan bahwa warisan dari kritik Gandhi atas modernitas, dan pemakaian ide-ide barat secara derivatif tanpa kritis, masih merupakan kekuatan besar dalam pemikiran pemikir kontemporer India seperti Partha Chatterjee. Dan mungkin juga pada pemikir poskolonial Amerika asal India Gayatri C. Spivak.

Pascakolonialisme dan Peradaban Baru

Lalu bagaimana seharusnya strategi negara terjajah pasca era kolonialisme ini, membentuk sebuah peradaban yang tidak mengekor pada globalisasi, dan mempertahankan nilai lokal peradabannya. Gerakan sub-altern masih bisa menjadi upaya untuk melakukan pencerahan dan membangun kesadaran kaum terjajah untuk bangkit dari keterpurukannya, dan meninggalkan paradigma kolonialisme, bahwa mereka memiliki identitas sendiri dalam peradabannya, bukan identitas yang didefinisikan kaum kolonial.

Pemaknaan terhadap “Bangsa” adalah jalan untuk mencapai peradaban baru bagi kaum terjajah yang sejajar dengan peradaban kaum lainnya. Sehingga skenario benturan peradaban, yang hendak membenturkan peradaban barat dengan peradaban-peradaban lainnya, dan kemudian menghasilkan kejayaan peradaban barat atas peradaban lainnya dapat terhindar.

Bagaimanapun perlu juga diakui, bahwa masih ada saja yang melihat adanya perbedaan antara peradaban Barat dan Timur, yang direpresentasikan sebagai dua kutub peradaban yang berlawanan, satu peradaban penjajah, satunya lagi peradaban kaum terjajah. Namun tentunya ini tidak bisa dijadikan argumen untuk melakukan pendikotomian peradaban, dan membandingkan yang mana yang terbaik. Setiap peradaban mempunyai ciri khas sendiri, sesuai nilai-nilai lokal yang berkembang di masyarakatnya.

*Versi asli makalah ini berjudul “Globalisasi versus Lokalisasi : Strategi Hegemonik Barat Membentuk Peradaban Baru”. Saya terbitkan di acara pelatihan kader sebuah organisasi mahasiswa, pada bulan Mei 2006, dengan tema besar “Studi Poskolonial : Melacak Akar Sejarah Poskolonial di Ranah Agama, Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya”

Rz, suka-politik-bukan-politisi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s