Misteri Senjata Api Pembunuh Indria BNN

Indria Kameswari meregang nyawa saat sebagian warga Perumahan River Valley, Cijeruk, Bogor, Jawa Barat, menjalankan ibadah sholat Idul Adha. Sebutir peluru menembus punggungnya dan merobek paru-paru serta mematahkan dua tulang iga di sisi kanan. Pelaku penembakan adalah suaminya sendiri, Mochamad Akbar yang sebelumnya mengaku bernama Abdul Malik Aziz.

Pagi itu, Jumat 1 September 2017, suara letupan senjata api memecahkan keriuhan warga muslim yang sedang merayakan hari Raya Idul Qurban. Mutia, gadis cilik berusia sekitar 4 tahun yang merupakan buah cinta pasangan suami-istri itu terhenyak. Ia kemudian berlari ke luar rumah untuk memberi tahu tetangga bahwa ibunya tergeletak di kamar mandi.

Warga kemudian bergegas berdatangan ke rumah Indria dan menemukan wanita itu tertelungkup di kamar mandi dengan sebuah luka tembakan di punggung. Warga kemudian memindahkan Indria dan meletakkan tubuhnya di atas kasur di ruang tengah. Petugas keamanan perumahan River Valley lalu menghubungi aparat kepolisian.

Warga belum tahu apa yang baru saja terjadi di rumah bercat oranye itu. Namun, seorang warga mengaku sempat menyaksikan suami Indria tergesa-gesa meninggalkan rumah menggunakan mobilnya sebelum banyak warga berdatangan.

Tim identifikasi polisi kemudian memastikan pegawai Badan Narkotika Nasional (BNN) itu tewas karena luka tembak di punggungnya. Suami Indria langsung diburu berbekal keterangan dari Mutia dan warga yang melihat Akbar buru-buru pergi meninggalkan rumah sesaat setelah membunuh istrinya.

Tak butuh waktu lama bagi polisi untuk menemukan keberadaan Akbar. Dua hari berselang, Minggu 3 September 2017, petugas gabungan Polres Bogor dan tim Penindakan dan Pengejaran (Dakjar) BNN serta Polda Kepulauan Riau berhasil menangkap Akbar di rumah kerabatnya di Tanjung Buntung, Batam, Kepulauan Riau.

Akbar tak melawan saat ditangkap. Kepada polisi ia mengaku telah menembak istrinya hingga tewas. Namun di mana senjata api yang digunakan untuk menghabisi nyawa istrinya masih tak jelas rimbanya.

Akbar terus berkelit dan beberapa kali mengaku sakit saat diperiksa polisi. Keterangannya kepada polisi masih berubah-ubah dan berbelit.

Titik terang mulai terlihat ketika polisi mulai menelusuri jejak pelarian Akbar ke Batam melalui bandara Halim Perdanakusumah. Dari rekaman CCTV terlihat Akbar tengah berada di bandara itu pada Jumat 1 September.

Berdasarkan manifes pesawat, Akbar diketahui akan pergi menuju Batam, Kepulauan Riau.

Yang mengejutkan, kepergian Akbar ke Batam melalui bandara Halim itu sebenarnya sempat tak mulus. Ia tak bisa melintasi petugas pemeriksaan karena ditemukan benda logam saat hendak melintasi pemeriksaan sinar x-ray.

Saat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, petugas menemukan tiga butir peluru. Akbar sempat berkilah kalau peluru itu milik kakaknya yang bekerja sebagai “anggota”.

Peluru itu lalu disita petugas keamanan bandara. Akbar tak ikut ditahan dan bisa lolos dari pemeriksaan karena memanfaatkan jeda pergantian petugas yang memeriksa penumpang.

“Tersangka menunggu pergantian shift untuk menghindari petugas yang tadi memeriksa dia dan Akbar berhasil terbang ke Batam,” ujar Kasat Reskrim Polres Bogor Ajun Komisaris Bimantoro Kurniawan di Mapolres Bogor, Jawa Barat.

Kepolisian hingga kini masih terus mencari keberadaan senjata api yang digunakan Akbar. Ada kemungkinan pistol itu dibuang atau disembunyikan di suatu tempat.

Akbar telah dikeler penyidik ke beberapa tempat untuk menunjukkan keberadaan pistol yang digunakan untuk menghabisi nyawa istrinya. Namun Akbar terus berkelit.

“Dia tidak mau mengaku di mana menyembunyikan senjatanya. Untuk senjata api, kami masih mencarinya dengan intensif. Sementara untuk saksi sudah ada tujuh orang yakni tetangga dan putri korban,” kata Kapolres Bogor Ajun Komisaris Besar Dicky Pastika.

Penyidik juga mendalami dugaan pistol itu dititipkan Akbar ke orang lain. Sebab dari rekaman CCTV di Bandara Halim terlihat seperti ada orang lain yang menyertai kedatangan Akbar di bandara sebelum menuju ke Batam.

“Kami masih melakukan penyelidikan terkait pihak-pihak yang membantu tersangka melarikan diri,” ujar Kasat Reskrim Polres Bogor Ajun Komisaris Bimantoro Kurniawan di Mapolres Bogor, Jawa Barat

Polisi hingga kini terus mendalami profil tiga butir peluru yang disita petugas dari Akbar. Kaliber dan jenis peluru masih terus didalami.

Akbar ditahan di Polres Bogor untuk menjalani pemeriksaan. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan untuk mengungkap kasus pembunuhan ini.

“It is better to be violent, if there is violence in our hearts, than to put on the cloak of nonviolence to cover impotence.” – Gandhi

Islam Yes, Partai Islam No!

Partai politik Islam terancam tidak lagi masuk dalam 5 (lima) besar partai politik di Pemilu 2014. Jika pemilu dilaksanakan hari ini (saat survei dilaksanakan), lima besar perolehan suara partai politik dikuasai oleh partai berbasis kebangsaan yaitu Partai Golkar (21,0 %), PDIP (17,2 %), Partai Demokrat (14,0 %), Partai Gerindra (5,2 %), dan Partai Nasional Demokrat (5,0 %).

Partai-partai politik Islam hanya memperoleh dukungan dibawah 5 %. Partai Islam adalah partai yang berasaskan Islam atau secara historis berbasis masa Islam. Sedangkan partai nasionalis (kebangsaan) adalah partai berasaskan pancasila atau secara historis berbasis masa nasionalis.

Demikian salah satu kesimpulan survei terbaru yang dilaksanakan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI). LSI secara reguler  melaksanakan survei nasional 3-4 kali setahun. Survei ini dibiayai sendiri oleh LSI dari anggaran public interest yang dialokasi setiap tahunnya. Survei ini adalah survei nasional di semua propinsi di Indonesia dengan menggunakan metode sistem pengacakan bertingkat (multistage random sampling). Jumlah responden survei ini adalah 1.200 , dan margin of error sebesar plus minus 2,9 %.  Survei dilaksanakan pada tanggal 1-8 Oktober 2012. Untuk mendalami substansi dan analisis, LSI juga melakukan Focus Group Disscusion (FGD)  dan in-depth interview.

Untuk pertama kalinya sejak pemilu 2004,pemilu 2009, dan pada survei-survei sebelumnya, partai politik Islam tidak satupun yang masuk ke dalam 5 besar dukungan publik. Pada survei oktober 2012 ini, semua partai politik Islam memperoleh dukungan di bawah 5%. Dibandingkan dengan pada Pemilu 2004, PKB menempati posisi ketiga perolehan suara pemilu dengan dukungan sebesar 10,6 %. PPP berada pada posisi keempat dengan dukungan sebesar 8,1 %. Partai Demokrat pada posisi kelima dengan perolehan suara 7,5 %. Pada Pemilu 2009, PKS berada pada posisi kempat perolehan suara dengan dukungan sebesar 7,9 %. PAN berada pada posisi kelima dengan dukungan sebesar 6,0 %.

Suara partai Islam mengalami kecenderungan yang terus menurun dari waktu ke waktu. Pada pemilu 1955, pemilu pertama yang dicatat sebagai pemilu yang paling demokratis, total perolehan suara partai Islam adalah sebesar 43,7 %. Pada Pemilu 1999, pemilu pertama setelah Orde Baru, total suara partai Islam mengalami penurunan menjadi 36,8 %. Pada Pemilu 2004, total suara partai Islam tidak banyak mengalami perubahan yaitu hanya sebesar 38,1 %. Sedangkan pada pemilu 2009, total suara partai Islam kembali mengalami penurunan yaitu sebesar  25,1 %. Dan pada survei Oktober 2012 ini, total suara partai Islam jika digabung hanya sebesar 21,1%.

 

Bukan hanya dukungan terhadap Partai Politik Islam yang merosot, namun juga tokoh-tokoh partai politik Islam kalah pamor atau popularitas dengan tokoh dari partai nasionalis. Tokoh-tokoh partai Islam seperti Hatta Rajasa, Suryadarma Ali, Muhaimin Iskandar, dan Lutfi Hasan Ishaaq) memiliki tingkat pengenalan yang rendah, rata-rata masih dibawah 60 %. Bandingkan dengan tokoh dari partai nasionalis seperti Megawati, Aburizal Bakrie,Prabowo, dan Wiranto yang popularitasnya rata-rata diatas 60 %.

Rendahnya popularitas tokoh partai Islam ini juga berpengaruh terhadap dukungan publik terhadap mereka. Dukungan terhadap tokoh partai politik Islam masih dibawah 5 %.  Hatta Rajasa ( 3,2 %), Muhaimin Iskandar ( 0,3 %), Suryadarma Ali (2,1 %), Lutfi Hasan Ishaaq ( 0,8 %). Bandingkan dengan dukungan terhadap tokoh dari partai nasionalis yang telah mencapai diatas 15 %. Megawati (20,2 %), Prabowo (19,3 %), dan Aburizal Bakrie (18,1%).

Jika kondisi dalam survei ini tetap bertahan, maka peluang tokoh partai politik Islam ini untuk maju sebagai capres sangat kecil. Tokoh Partai Islam ini hanya akan menjadi capres divisi tiga. Capres divisi tiga adalah capres yang dukungan terhadap partai politik maupun kandidat presidennya masih kecil,dalam survei ini dibawah 5 %. Capres divisi tiga juga bukan berasal dari tiga partai besar perolehan suara.

Sementara capres divisi dua terdapat Ani Yudhoyono dan Prabowo Subianto. Capres divisi dua adalah capres yang dukungan terhadap partai politik dan kandidat presidennya berbanding terbalik. Ani Yudhoyono berasal dari tiga partai besar yaitu Partai Demokrat, yang dukungan terhadap partainya diatas 10 %. Namun dukungan terhadap Ani Yudhoyono sebagai capres sendiri masih kecil dan dibawah 10 %. Sementara Prabowo Subianto berasal dari Partai Gerindra bukan dari tiga partai besar yang dukungan terhadap partainya masih dibawah 10 %, namun dukungan terhadap Prabowo sendiri sebagai capres telah mencapai diatas 15 %.

Dan capres divisi satu adalah capres yang berasal dari tiga partai besar dan dukungan terhadap kandidat telah mencapai lebih dari 15 %. Pada capres divisi satu ini, terdapat pertarungan antara Megawati Soekarno Putri dan Aburizal Bakrie. Dari sisi Partai Politik, baik Golkar maupun PDIP memiliki potensi untuk mengusung kandidat presiden sendiri. Syarat pencalonan presiden sesuai dengan undang-undang adalah partai politik yang memperoleh suara minimal 20 % suara pada pemilu, ataupun 25 % kursi di Parlemen (DPR). Dari sisi kandidat, dukungan terhadap Megawati maupun Aburizal Bakrie dalam survei telah mencapai diatas 15 % sehingga menjadi kandidat yang kompetitif pada Pemilu Presiden tahun 2014.

Inilah temuan terpenting dalam survei LSI Oktober 2012 : Untuk pertama kali partai politik Islam tidak berada lagi pada 5 besar elektabilitas/dukungan publik. Partai politik Islam terancam hanya menjadi pelengkap/komplementer dari sistem kepartaian di Indonesia. Bukan hanya partai politik, tokoh partai politik Islam juga kalah pamor dan dukungan dibanding tokoh partai nasionalis.

Mengapa Partai Islam tidak di 5 besar partai lagi? Apa yang menyebabkan merosotnya dukungan terhadap partai politik Islam dan tokoh-tokohnya? Dari hasil FGD dan in-depth interview, LSI menemukan ada empat faktor penyebab.

Pertama, makin kentalnya fenomena “Islam Yes partai Islam No”. Ke-Islaman di Indonesia hanya bersifat kultural atau kesholehan individu namun tidak terwujud dalam aspirasi politiknya. Mayoritas Islam di Indonesia tidak ingin Partai dengan aroma Islam menjadi mayoritas.

Kedua, pendanaan politik partai Nasionalis lebih kuat daripada pendanaan politik partai Islam. Partai Nasionalis seperti P.Golkar, PDIP, P.Demokrat, P. Gerindra,dan P. Nasdem lebih siap secara pendanaan daripada partai Islam seperti PKS,PPP,PAN, dan PKB. Pendanaan yang lebih siap ini memungkinkan partai nasionalis lebih siap dalam mendanai aktifitas dan image building partai.

Ketiga, munculnya anarkisme yang mengatasnamakan Islam oleh kelompok-kelompok Islam tertentu membawa dampak pada munculnya “kecemasan kolektif” masyarakat Indonesia pada umumnya. Kekerasaan atas nama Islam misalnya kekerasan terhadap Ahmadiyah, Syiah, dan pelarangan pendirian rumah ibadah (gereja) memunculkan kekhwatiran terhadap formalistik Islam. Selain itu,gejala tuntutan dan pemberlakukan syariat Islam di beberapa daerah menjadi referensi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya bahwa ada agenda syariat Islam jika yang berkuasa adalah partai Islam.

Keempat, Partai Nasionalis juga semakin mengakomodasi kepentingan dan agenda kelompok Islam,terlepas dari motifnya yang bersifat substantif ataupun simbolik. Bentuk akomodasinya seperti dibentuknya organisasi underbouw partai untuk merangkul kelompok Islam. Seperti Baitul Muslimin di PDIP, Majelis Dzikir SBY (Partai Demokrat). Selain itu banyak tokoh-tokoh Islam yang diakomodasi oleh partai nasionalis baik ke dalam struktur partai maupun dalam rekruitmen anggota parlemen.

Prediksi 2014?

1. Pemilu 2014 adalah pertarungan antara partai dan tokoh nasionalis. Partai Islam hanya akan menjadi komplementer (pelengkap).

2. Jika aturan presidential threshold (20 % suara/25 % kursi) berlaku maka pertarungan capres hanya akan terjadi antara capres divisi 1 (Megawati vs Aburizal Bakrie).

Pilpres 2014 akan menjadi The Clash of The Titans antara Megawati vs Aburizal Bakrie, yang keduanya didukung oleh partai besar, yang memenuhi syarat pencalonan. Namun Partai Demokrat dan calon presidennya kelak, yang didukung SBY, akan tetap menjadi “kuda hitam”.

Runtuhnya Popularitas Kabinet SBY-Boediono

Kasus korupsi di dua kementerian ikut memperburuk citra kabinet

Popularitas Kabinet pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) –Boediono kian merosot di mata publik. Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja kabinet menunjukkan tren yang menurun menjelang dua tahun jalannya pemerintahan SBY-Boediono.

Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mencatat, pada Januari 2010 saat pemerintahan SBY-Boediono baru berusia 100 hari, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kabinet SBY-Boediono berada di angka 52,3%. Pada September 2010 ketika pemerintahan sudah berjalan selama satu tahun, tingkat kepuasan tersebut menurun di angka 46,5%.

Tren penurunan tersebut berlanjut menjelang dua tahun berjalannya pemerintahan SBY-Boediono. Hasil survei LSI terbaru menunjukkan tingkat kepuasan terhadap kabinet SBY-Boediono berada di angka 37,7 %. Sehingga dalam waktu kurang dari dua tahun saja terhitung sejak 100 hari jalannya pemerintahan SBY-Boediono, popularitas kabinet terjun bebas sebanyak 15%. Survei LSI itu dilakukan pada tanggal 5-10 September 2011 dengan mewawancarai 1200 responden dari 33 propinsi menggunakan metode multistage random sampling.

Kontribusi turunnya popularitas kabinet SBY-Boediono bersumber dari para menterinya sendiri. Kasus korupsi di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang menyeret Menpora Andi Alfian Mallarengeng, dan kasus serupa di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) yang menyeret Menakertrans Muhaimin Iskandar paling andil dalam merosotnya popularitas kabinet SBY-Boediono.

Meski proses hukum yang berlangsung di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum menemukan keterlibatan keduanya, tetapi gencarnya pemberitaan kasus korupsi di dua kementerian tersebut selama beberapa bulan terakhir secara tidak langsung ikut mempengaruhi persepsi  publik terhadap kabinet.

Hal lain yang ikut berkontribusi merontokkan popularitas kabinet adalah kinerja beberapa menteri yang dinilai tidak berhasil sesuai terget dan tidak memuaskan publik. Dalam katergori ini Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mendapat sorotan karena kebijakan remisi koruptor yang dianggap tidak pro pemberantasan korupsi.  Menakertrans Muhaimin Iskandar juga disorot karena gagal melindungi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri dengan mencuatnya pemberitaan pemancungan Ruyati, TKI di Arab Saudi.

Tak hanya dua hal itu, persoalan yang menyangkut wilayah pribadi menteri pun seperti isu perselingkuhan, poligami dan kesehatan juga ikut memberikan kontribusi bagi merosotnya popularitas kabinet SBY-Boediono.

Merosotnya popularitas kabinet SBY-Boediono sebanyak 15 %, dari 52,3% di 100 hari pertama pemerintahan menjadi hanya 37,7 % menjelang dua tahun berjalannya pemerintahan adalah warning bagi presiden. Presiden harus segera melakukan penataan kabinet kalau tidak ingin di sisa tiga tahun pemerintahannya, popularitas kabinet terus merosot di mata publik. Reshuffle menteri sebuah keharusan jika presiden tidak ingin jalannya pemerintahan terbebani oleh menteri yang bermasalah.

KLENTENG KU TAK LAGI UTUH

klenteng

Pria paruh baya itu serius menghadap altar pemujaan. Matanya memejam. Kedua tangannya diangkat setinggi wajah sembari mengayun-ayunkan dua batang dupa bakar dalam gengamannya. Aroma wangi pun menyeruak di klenteng. Ia larut dalam ritual sembahyang seolah tak terpengaruh riuh ramai pedagang di luar pagar klenteng berusia lebih dari seabad itu.

Nama asli klenteng itu Zhen Ling Gong. Orang kebanyakan lebih mengenalnya dengan Klenteng Poncowinatan karena letaknya di jalan Poncowinatan. Klenteng tua di utara Tugu Yogyakarta ini sudah ada sejak tahun 1897 dan merupakan klenteng tertua di Yogyakarta. Lokasinya berhadap-hadapan dengan Pasar Kranggan, dipisahkan oleh jalan selebar 5 meter. Kondisi bangunannya sebagian masih asli seperti ketika dibangun pertama kali dulu.

“Awalnya Sultan HB VII memberikan tanah seluas 6.244 meter persegi kepada orang tionghoa. Di tanah itulah lalu didirikan klenteng,” kata pria itu. Ia adalah Ziput Lokasari, pengurus Yayasan Bakti Loka yang menanungi Klenteng Poncowinatan dan Klenteng di Gondomanan.

Menurut cerita Ziput, sekira tahun 1860-an di kawasan sebelah utara Tugu Yogyakarta ditetapkan sebagai kawasan penduduk tionghoa oleh Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Diatas Sultan Ground (tanah keraton/milik sultan) yang diberikan itulah, pertama-tama orang tionghoa mendirikan tempat peribadatan mereka yakni Kauw Lang Teng, yang kemudian mengalami perubahan penyebutan menjadi Klenteng.klenteng2

“Mereka bahu-membahu mendirikan klenteng dengan uang mereka. Sumbangan itu dikumpulkan dari yang terkecil 5 sen sampai 300 gulden. Itu arsipnya masih ada,” katanya lagi.

Selesai membangun klenteng, pada tahun 1907 orang tionghoa juga memikirkan pendidikan bagi mereka. Lantas sekolah modern tionghoa pertama di Yogyakarta dibangun di kawasan klenteng. Namanya Tiong Hoa Hak Tong (THHT) yang menginduk pada Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Batavia. Bangunan THHT berdiri di sebelah barat klenteng. Sehingga di kawasan yang sejak tahun 1923 tercatat sebagai China Temple, ini kemudian terbagi menjadi tiga: bagian tengah untuk rumah ibadah seluas 2.000 meter persegi, sebelah barat untuk sekolah seluas 1.200 meter persegi, sisanya untuk tempat olahraga dan kebudayaan.

Pengelola THHT dan klenteng orang yang sama. Selain dikelola etnis tionghoa, keduanya memang sedari awal satu bagian dalam kawasan klenteng. Ziput memastikan itu dengan menunjuk sebuah akta pendirian sekolah dalam bahasa Belanda yang sudah diterjemahkan baru-baru ini. Dalam akta Nomor 24 tertanggal 19 Juni 1907 itu, disebutkan pendirian THHT dimaksudkan untuk menyebarkan ajaran Konghucu lewat sekolah yang dibuka di klenteng.

Tapi sekolah THHT sudah tidak ada lagi. Pengelolaan sekolah berganti-ganti, sejak pemerintah Belanda mendirikan Holland Chinese School (HCS ), dan kemudian melarang pengelolaan sekolah oleh etnis tionghoa. Terakhir, pada tahun 1970 pengelolaan sekolah dikuasai oleh Yayasan Budya Wacana (YBW). Sekarang ini klenteng diapit ketat oleh sekolah Budya Wacana di sebelah barat, dan sebelah timur berdiri Sekolah Bhineka Tunggal Ika.

klenteng-baru-4Setiap imlek dan hari-hari keagamaan bagi orang tionghoa, klenteng ini ramai dikunjungi. Klenteng ini juga menarik perhatian wisatawan lantaran termasuk salah satu bangunan tua di Yogyakarta. Beberapa pihak mengusahakan klenteng ini ditetapkan sebagai kawasan heritage alias benda cagar budaya.

Namun sejak tahun 2007 ketenangan umat di klenteng terusik. Sengketa antara Yayasan Bakti Loka (YBL) sebagai pengelola klenteng dengan Yayasan Budya Wacana (YBW) sebagai pengelola sekolah Budya Wacana menjadi pemicunya. Pihak klenteng menuding telah terjadi perusakan klenteng Poncowinatan sebagai benda cagar budaya oleh pihak YBW.

Semuanya berawal sejak gempa yogyakarta pada 27 Mei 2006 lalu. Pasca gempa besar itu, pihak YBW merasa gedung tua yang mereka tempati tidak lagi aman lantaran banyak kerusakan akibat gempa. YBW lantas merenovasi bangunan sekolah dengan merubuhkan bangunan lama. Diatas tanah itulah kemudian didirikan bangunan tiga lantai sebagai bangunan sekolah yang baru.

Langkah YBW merubuhkan bangunan sekolah, belakangan dipersoalkan. Pihak YBL menganggap YBW telah merusak sebagian kawasan klenteng. Beberapa surat rekomendasi yang dikeluarkan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta menyatakan bahwa kawasan kelenteng itu telah menjadi kawasan cagar budaya. YBL pun beranggapan sekolah Budya Wacana menempati tanah dan bangunan yang semula adalah bagian dari klenteng. Pihak klenteng makin yakin, perubuhan bangunan sekolah yang lama dianggap sebagai perusakan atas bagian klenteng.

YBL punya dalil kuat dibalik tudingan perusakan itu. Menurut Ziput, selama ini sekolah Budya Wacana memang tidak terpisahkan dengan kawasan klenteng. Bangunannya pun menyatu dengan klenteng.

“Bangunan sekolah awalnya bagian klenteng,” terang Ziput sembari menunjukkan sebuah foto kawasan klenteng tahun 1950-an. Dalam foto itu memang terlihat tidak ada pemisah antara bangunan sekolah dengan klenteng. Tapi, sejak bangunan sekolah Budya Wacana yang baru berdiri, klenteng dan sekolah seolah terpisahkan.

YBW leluasa merubuhkan bangunan lama kabarnya karena mengantongi izin dari Pemkot Yogyakarta. Pihak yang menentang pembangunan sekolah Budya Wacana pun kemudian mengajukan gugatan soal pemberian izin ini. Sidang gugatan YBL atas Pemkot Yogyakarta di PTUN memutuskan pembangunan sekolah tidak boleh dilanjutkan sembari menunggu keputusan apakah kawasan klenteng termasuk benda cagar budaya atau tidak.

Namun, YBW tidak menggubris dan terus melakukan pembangunan gedung sekolah. Bahkan pihak YBW menolak tudingan merusak cagar budaya. Pihak YBW beralasan belum ada keputusan resmi apakah kawasan klenteng Poncowinatan termasuk cagar budaya atau tidak.

Pihak YBL ganti membantah alasan yang dikemukakan YBW. Mereka beranggapan, kendati klenteng Poncowinatan belum berstatus sebagai benda cagar budaya, bukan berarti pihak YBW bisa seenaknya merubuhkan bangunan sekolah yang lama, yang menurut mereka satu kesatuan dalam kawasan klenteng. “Kalau belum cagar budaya, toh bangunan itu sudah berumur diatas 50 tahun. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992, bangunan yang berumur lebih dari 50 tahun dianggap bangunan cagar budaya,” ujar Ziput lagi.

Pekan lalu, bersama Komisi II DPRD Yogyakarta, pihak yang menentang perusakan klenteng juga mengadukan Pemkot Yogyakarta ke UNESCO, Dinas Pariwisata Seni dan Budaya DIY, serta ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta atas dugaan ikut andil dalam perusakan klenteng. BP3 DIY memutuskan akan melakukan kajian terhadap status kawasan klenteng Poncowinatan apakah layak ditetapkan sebagai benda cagar budaya atau tidak.

klenteng4Sayangnya kawasan itu sudah tak utuh lagi. Sekolah dan klenteng terpisah, bahkan sebagian bangunannya telah hancur. “Yang tertinggal hanya separuh, kelentengnya saja,” tutur Ziput

Gedung baru sekolah Budya Wacana itu kini terlanjur selesai dibangun. Ia berdiri kokoh disamping klenteng. Tembok menjulang tinggi selebar 60 cm memisahkan keduanya.


Rz, suka-liat-bangunan-tua

DEWI

dewi

Dewi…/ Bukalah kedua matamu / Pandanglah ruang di hatiku

Dewi…/ Berikan nafasmu untukku / Agar ku hidup bersamamu..

Bersamamu..

Terus bersamamu..

Rz, kangen-dewi

Kemenangan Obama

obama-menteng1

Siapa sangka ekspresi wajah bocah-bocah SD Menteng yang sedang teriak kegirangan bakal muncul di halaman depan koran NY Times, salah satu koran terbesar di negeri AS sana.

Obama memang sukses mencetak sejarah : Presiden AS pertama berkulit hitam dan keturunan Afro-Amerika. Fakta lainnya, meski tidak penting juga, ia memiliki darah Islam dari garis Ayah dan pernah tinggal di Indonesia dan sebentar mencicipi bangku sekolah di Indonesia. Yang terakhir mungkin alasan kenapa bocah-bocah SD Menteng muncul di NY Times.

Soal kemenangan Obama saya menilainya biasa saja. Pertama, mungkin karena kesuksesan Obama merambah dunia maya untuk medium kampanye. Kedua, Ia juga berhasil merangkul suara kaum muda. Mereka itu pemilih pemula dan jumlahnya mendekati 20 persen dari total pemilih dalam Pilpres AS. Jumlah itu cukup signifikan, mengingat partisipasi warga AS dalam Pemilu cukup rendah, yakni 40 persen.  Ia juga berhasil merebut hati kelompok minoritas, oposisi, dan kaum perempuan yang belum memutuskan pilihan hingga detik-detik terakhir pencoblosan.

Ketiga, Republikan salah memasang kandidat. Mc Cain- Palin relatif kalah bila disandingkan dengan kandidat Demokrat Obama-Biden. Meskipun perlu dicatat, Biden hanya sedikit kontribusinya dalam kemenangan Obama.

Mc Cain sosok orang tua konservatif, gaya bicaranya kaku dan tidak menawarkan sesuatu yang kongkrit bagi calon pemilih. Ia hanya dihormati sebagai pahlawan perang Vietnam lantaran pernah mendekam di tahanan Vietkong selama hampir 5 tahun. Kesan kaku Mc Cain tampak pada 3 kali debat pre-election yang secara gemilang dimenangkan oleh Obama. Konservatif jelas tak memberi harapan bagi warga AS yang sedang dirundung masalah. AS sedang goyah akibat krisis finansial, pengangguran melonjak drastis, dan jumlah utang menumpuk akibat perang di Irak dan Afghanistan.

Obama dengan semboyan Yes, We Can dan Change We Need bagaikan spirit baru bagi warga AS yang sedang murung dan menginginkan harapan. Satu alasan yang masih harus diverifikasi, katanya, beberapa orang tua prajurit AS yang diterjunkan di Afghanistan dan Irak, memilih Obama lantaran ingin anaknya segera ditarik dari medan perang.

topi-jacky-kennedy1

Bagaimana Palin? Bagi saya, dia hanya sukses memelopori trend baru busana dan kacamata wanita. Kejadian yang mirip dengan kepeloporan gaya topi dan kacamata besar Jacqueline Kennedy, istri mendiang Presiden John Kennedy di era 60-an. Sementara Biden sepertinya hanya sekedar pelengkap persyaratan Obama menjadi Capres.

Gelombang dukungan orang-orang kaya di AS dan sejumlah tokoh berpengaruh, juga salah satu faktor kemenangan Obama. Berkat dukungan itu, dana kampanye Obama sanggup menembus rekor hingga 1 Miliar Dollar AS. Padahal, pada Pemilu 2004 lalu, Komisi Pemilihan Federal melansir total dana kampanye dari kandidat Bush dan Kerry hanya mencapai 693 juta dollar AS.

Kemenangan Obama bukan karena keberhasilan ia seorang dan tim suksesnya plus Partai Demokrat. Tapi, ada gelombang dukungan yang tidak terkira yang membantu Obama untuk mencapai White House.

Rz, bukan-lulusan-SD-Menteng