Pulitzer Prize, penghargaan jurnalistik tahunan bagi para jurnalis di negeri Paman Sam kembali diberikan untuk tahun 2008. Koran The Washington Post menyabet 6 penghargaan, termasuk kategori yang paling bergengsi: layanan publik.
Menurunkan laporan soal minimnya penanganan medis bagi veteran perang AS di rumah sakit Walter Reed, membuat Washington Post memenangi kategori layanan publik. Koran yang didirikan sejak 1877 dan merupakan salah satu koran yang terbanyak oplahnya di AS itu, juga berjaya di kategori breaking news melalui reportase penembakan massal di kampus Virginia Tech yang menewaskan seorang mahasiswa Indonesia.
Jo Becker & Barton Gellman, duo jurnalis The Washington Post juga menjadi pemenang kategori laporan nasional lewat tulisannya mengenai orang-orang dibalik layar yang berpengaruh bagi Wapres AS Dick Cheney saat melahirkan kebijakan nasional.
Steve Fainaru melengkapi kemenangan The Washington Post setelah tulisannya mengenai skandal kontraktor keamanan swasta AS yang beroperasi di Irak memenangi kategori laporan internasional.
Koran The New York Times, penyabet 7 Pulitzer Award pada 2002, tetap berjaya di kategori laporan investigasi. Walt Bogdanich & Jake Hooker menurunkan laporan yang mengungkap kandungan bahan-bahan berbahaya dalam obat-obatan dan produk makanan China. Kasus ini sempat membuat tegang hubungan dagang AS-China. NY Times menambah gelarnya lewat ulasan Amy Harmon mengenai dilema dan isu etika dalam tes DNA sebagai pemenang kategori laporan naratif.
Karya fotografer Reuters, Adrees Latif, saat memotret kameramen Jepang Kenji Nagai yang tewas dalam demonstrasi biksu Myanmar tahun 2007, memenangi kategori breaking news fotografi.


Pulitzer Prize pertama kali diberikan pada 4 Juni 1917. Nama Pulitzer diambil dari nama jurnalis Amerika keturunan Hungaria, Joseph Pulitzer yang meninggal pada 1911. Sebagian uang yang diwarisi Pulitzer kepada Columbia University kemudian dipergunakan untuk mendirikan Columbia School of Journalism pada 1912, dan selanjutnya sekolah itulah yang mengelola Pulitzer Prize ini.
Tiap pemenang Pulitzer diganjar USD 10.000. Khusus pemenang kategori layanan publik juga mendapat medali emas.
screenshot: foto detik-detik kematian Kenji Nagai
Rz, pulitzer-versi-Indonesia-kapan?
Kontroversi pengesahan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) malah melebar kemana-mana. Kenapa mesti ngurusi pemblokiran situs syahwat?? apa urgensinya?? Kalau atas nama menyelamatkan moralitas anak bangsa seperti didengungkan beberapa pihak, ya boleh-boleh saja.
Saya kira itu tepat, tapi tidak mencukupi. Apakah biang kerok merosotnya moralitas anak bangsa melulu soal pornografi yang isinya pamer-pameran buah dada, paha mulus, bokong seksi, dan alat kelamin yang bikin syahwat melonjak itu??
Merosotnya moralitas anak bangsa juga karena konstruksi kekerasan yang berseliweran di media manapun : elektronik, internet, cetak, dan media nyata yang notabene mereka saksikan langsung di lingkungan masyarakatnya sendiri.
Tingkah polah para aparat hukum dan birokrat buruk yang gemar korupsi seperti tikus mencuri padi di lumbung. Itu juga contoh tidak baik untuk pembentukan moral anak bangsa
Kalau kemudian ada reaksi “panas” dan menantang dari seorang dedemit maya atas situs Depkominfo hari ini, salahkah mereka? Apa yang mereka tuliskan rasanya tepat:
kami mengucapkan selamat atas disahkannya UU ITE dan rencana pemblokiran situs porno seindoneisa. Dengan ini kami menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap pemerintah. Buktikan UU in dibuat bukan untuk menutupi kebodohan pemerintah. cihuyyyyyyy
Kontroversi pengetokan palu atas UU yang juga memuat masalah carding, hacker, ilegal trading ini malah bakal jadi ajang adu kuat pakar telematika Roy Suryo versus Blogger & Hacker, seperti kutipan pakar itu di Detikinet :
Siapa ‘mereka’ yang dimaksud Roy? “Kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif adalah pelakunya. Hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif,” kata Roy Suryo.
screenshoot diambil pas situs Depkominfo masih diobok-obok
klik gambar untuk melihat lebih jelas
Rz, sumpah-bukan-saya-pelakunya

Ada yang menarik ketika menyimak salah satu dari lima perspektif yang disampaikan Wimar Witoelar dalam acara Perspektif Wimar di ANTV jam 06.00 tadi pagi.
Mengutip hasil riset sebuah institute for public policy di New York, si Kribo mengatakan bahwa 50 persen dari remaja AS lebih banyak membaca blog ketimbang koran.
Masih tentang riset, disebutkan bahwa para remaja itu menghabiskan setidaknya 20 jam per-hari untuk sekedar membaca blog.
Ada dua hal yang menarik dicermati. Pertama, soal 20 jam yang dihabiskan remaja AS untuk membaca blog. Kalau diasumsikan dalam sepekan, katakanlah hanya 5 hari para remaja AS mengakses internet (Senin s/d Jumat), sementara Sabtu & Minggu dihitung weekend, maka setidaknya mereka menghabiskan 4 jam per-hari untuk membaca blog. Apakah itu jumlah jam yang normal?
Kalau saya yang selalu berinteraksi dengan internet tiap hari, misalnya, untuk blogwalking pagi dan malam hari biasanya tidak lebih dari sejam. Artinya, dalam sehari maksimal saya baca blog tak lebih dari 2-3 jam. Itu juga kalau ada blog yang ENAK DIBLOG DAN PERLU (hehehe…kayak tagnya Blog Tempointeraktif yah).
Kedua, hasil riset itu memberi sinyal bahwa media online (termasuk Blog) sudah mulai menyaingi koran yang notabene media cetak. Meskipun harus ditelusuri lebih lanjut, berapa persen warga AS yang memiliki akses ke internet dan berminat baca-baca blog.
Rz, enak-baca-koran-apa-baca-blog?
Statistik memang perlu.
Tapi bukan berarti mengejar.
Menembus 10.000 itu sedikit.
Blog seleb lain berkali-kali lipat dari ini

Rz, suka-statistik-gak-ngejar-trepik
Penampilannya lelaki tulen. Rambut cepak, berbadan tegap dan kekar, kulitnya coklat gelap. Sesekali asap rokok menyembul dari mulutnya. Mengayuh becak demi sesuap nasi telah dilakoninya sejak 22 tahun silam.
Penumpang becaknya tak pernah menggubris si tukang becak itu. Hingga si penumpang turun untuk membayar dan mendengar suara si tukang becak, si penumpang baru sadar pengayuh becak itu seorang perempuan. “Saya diam saja, ndak ngomong kalau ndak ditanya” tutur Mbah Pon, demikian Ponirah (57) biasa dipanggil pelanggannya. Ia kerap melihat penumpang becaknya kaget mengetahui kalau dirinya perempuan.
Menjadi penarik becak memang bukan pilihan Ponirah sejak awal. Jerat kemiskinan yang memaksa nenek bercucu 3 ini menarik becak sejak 22 tahun silam, takkala anak-anaknya sudah memasuki usia sekolah, sementara penghasilan suaminya sebagai tukang becak dan petani sewaan tidaklah cukup. “Buat makan saja susah waktu itu, apalagi sekolah. Tapi anak-anak harus pinter, jangan bodoh kayak orang tuanya” tutur Ponirah.
Saat suaminya, Suparjo, wafat pada tahun 2005 silam akibat digerogoti kanker pankreas, Ponirah belum juga pensiun mengayuh becak. Apalagi, setahun berikutnya cobaan datang lagi. Rumahnya di dusun Njeblog, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, runtuh digoyang gempa dahsyat Yogyakarta. 40 ekor bebek yang biasa diambil telurnya untuk dijual, mati tertimpa reruntuhan kandang. “Saya pasrah” kenang Ponirah tentang peristiwa 2 tahun silam itu.
Tahun itu juga, nasib baik menghampiri Ponirah. Ia membintangi iklan minuman energi KukuBima Ener-G. Ponirah dan tiga figur lainnya — supir angkot cacat kaki, suami-istri tuna netra pemilik bengkel– oleh perusahaan minuman energi itu dinilai sebagai sosok pantang menyerah melawan kemiskinan dan keterbatasan.

Menjadi bintang iklan merupakan anugerah tersendiri bagi Ponirah. Dari aktingnya itu, dia mendapat imbalan Rp 6 juta. Sebulan kemudian ia ditanya minta apa. “Saya minta dibangunkan rumah,” jawabnya enteng. Gayung pun bersambut. Perusahaan itu mengantarkan uang Rp 30 juta yang kemudian dipakai Ponirah membangun kembali rumahnya. Rumahnya yang rusak akibat goyangan gempa pun kembali berdiri.
Mbah Pon tak tahu kapan akan berhenti mengayuh becak. Ia masih menyimpan cita-cita menggembala bebek seperti dulu. Namun, 40 ekor bebeknya sudah mati tertimpa gempa. Bantuan yang mengalir deras setelah gempa Yogya tak menciprati Mbah Pon. Ia tak punya uang untuk membeli bebek. “Ndak ada uang. Seekor harganya 25 ribu rupiah. Uang dari mana?” kata Mbah Pon yang kini menjadi selebritis di Bantul setelah menjadi bintang iklan.
Rz, selamat-hari-perempuan
