Siapa sangka ekspresi wajah bocah-bocah SD Menteng yang sedang teriak kegirangan bakal muncul di halaman depan koran NY Times, salah satu koran terbesar di negeri AS sana.
Obama memang sukses mencetak sejarah : Presiden AS pertama berkulit hitam dan keturunan Afro-Amerika. Fakta lainnya, meski tidak penting juga, ia memiliki darah Islam dari garis Ayah dan pernah tinggal di Indonesia dan sebentar mencicipi bangku sekolah di Indonesia. Yang terakhir mungkin alasan kenapa bocah-bocah SD Menteng muncul di NY Times.
Soal kemenangan Obama saya menilainya biasa saja. Pertama, mungkin karena kesuksesan Obama merambah dunia maya untuk medium kampanye. Kedua, Ia juga berhasil merangkul suara kaum muda. Mereka itu pemilih pemula dan jumlahnya mendekati 20 persen dari total pemilih dalam Pilpres AS. Jumlah itu cukup signifikan, mengingat partisipasi warga AS dalam Pemilu cukup rendah, yakni 40 persen. Ia juga berhasil merebut hati kelompok minoritas, oposisi, dan kaum perempuan yang belum memutuskan pilihan hingga detik-detik terakhir pencoblosan.
Ketiga, Republikan salah memasang kandidat. Mc Cain- Palin relatif kalah bila disandingkan dengan kandidat Demokrat Obama-Biden. Meskipun perlu dicatat, Biden hanya sedikit kontribusinya dalam kemenangan Obama.
Mc Cain sosok orang tua konservatif, gaya bicaranya kaku dan tidak menawarkan sesuatu yang kongkrit bagi calon pemilih. Ia hanya dihormati sebagai pahlawan perang Vietnam lantaran pernah mendekam di tahanan Vietkong selama hampir 5 tahun. Kesan kaku Mc Cain tampak pada 3 kali debat pre-election yang secara gemilang dimenangkan oleh Obama. Konservatif jelas tak memberi harapan bagi warga AS yang sedang dirundung masalah. AS sedang goyah akibat krisis finansial, pengangguran melonjak drastis, dan jumlah utang menumpuk akibat perang di Irak dan Afghanistan.
Obama dengan semboyan Yes, We Can dan Change We Need bagaikan spirit baru bagi warga AS yang sedang murung dan menginginkan harapan. Satu alasan yang masih harus diverifikasi, katanya, beberapa orang tua prajurit AS yang diterjunkan di Afghanistan dan Irak, memilih Obama lantaran ingin anaknya segera ditarik dari medan perang.
Bagaimana Palin? Bagi saya, dia hanya sukses memelopori trend baru busana dan kacamata wanita. Kejadian yang mirip dengan kepeloporan gaya topi dan kacamata besar Jacqueline Kennedy, istri mendiang Presiden John Kennedy di era 60-an. Sementara Biden sepertinya hanya sekedar pelengkap persyaratan Obama menjadi Capres.
Gelombang dukungan orang-orang kaya di AS dan sejumlah tokoh berpengaruh, juga salah satu faktor kemenangan Obama. Berkat dukungan itu, dana kampanye Obama sanggup menembus rekor hingga 1 Miliar Dollar AS. Padahal, pada Pemilu 2004 lalu, Komisi Pemilihan Federal melansir total dana kampanye dari kandidat Bush dan Kerry hanya mencapai 693 juta dollar AS.
Kemenangan Obama bukan karena keberhasilan ia seorang dan tim suksesnya plus Partai Demokrat. Tapi, ada gelombang dukungan yang tidak terkira yang membantu Obama untuk mencapai White House.
Rz, bukan-lulusan-SD-Menteng



Kalimat “..atas petunjuk Bapak Presiden…” kerap meluncur dari mulutnya.
Barang usang memang tak lagi nyaman digunakan. Lebih baik dibuang atau dikandangkan, kalau tak siap menghadapi rewelnya barang usang.

