Nyala Semangat
Lima tahun lalu, nasib buruk membawa Nuryanto ke rumah tahanan Salemba, Jakarta Pusat.
Dalam sebuah tawuran, dia kedapatan membawa senjata tajam. Meski mengelak bukan miliknya, Nur sulit berkelit.
Dia pun mendekam di sana selama empat bulan. Waktu yang teramat singkat, sebenarnya. Namun dia mendapatkan dunia baru yang menakjubkan: putaw.
Kenikmatan mengalahkan rasa takutnya. Di balik jeruji, Nuryanto berbagi jarum suntik dengan kawan-kawannya. Seorang narapidana yang sudah terinfeksi virus pelumpuh kekebalan tubuh, HIV, memang mengingatkannya akan bahaya penggunaan jarum suntik bersama. Tapi dia tak acuh. Jarum suntik itu pun terus beredar di antara teman, menyemprotkan putaw ke dalam darah.
Dan dia akhirnya menemukan kebenaran di balik nasihat sang teman. Tubuhnya lemah. Berat badannya susut. Diagnosis dokter menghunjamnya. Dia positif terinfeksi HIV. Dia marah, kalut, frustrasi, hingga terpikir mengakhiri hidupnya.
Sahabat. Akhirnya mereka jua yang menghidupkan kembali semangat Nur. Dia bangkit dan tidak lagi merasa sendiri. Bersama teman-teman senasibnya, dia aktif di sebuah organisasi HIV/AIDS untuk memotivasi orang-orang yang senasib dengannya.
Kondisi tubuh yang tidak stabil tidak membuatnya berhenti. Dia melukis. Mengguratkan warna-warna cerah seperti semangat hidupnya yang terus menyala hingga dia berpulang ke Sang Pencipta. Namun, bagi sahabatnya, Nuryanto telah meninggalkan semangat yang tetap menyala.
Tempo Edisi 1 Desember 2008
foto & teks ; Edy Susanto
Rz, jangan-nyuntik-rame-rame
Desember 15, 2008 pada 8:42 am
Untuk bahan renungan…
Desember 28, 2008 pada 4:03 pm
postingan blogger jurnalis lebih akurat dan dramatis…
selamat
Desember 29, 2008 pada 1:14 pm
moga menjadi hikmah buat kita
Januari 1, 2009 pada 2:01 pm
kalo harus berakhir seperti itu, aku makin gak suka dengan sistem hukuman di penjara — tempat yang seharusnya jadi Lembaga Pemasyarakatan, bukan bikin orang makin rusak.
Januari 29, 2009 pada 1:07 am
makasi buat infonya, ternyata kyk gtu