Resiko Jurnalis
Resiko jadi jurnalis, agenda pribadi terkadang harus dibatalkan demi sebuah momen yang rugi kalau dilewatkan.
Hari ini mestinya saya ke Jakarta. Ehh… ndilalah dua hari kemarin, sms mampir ke ponsel. Isinya: kumpul di kantor jam 5. rapat liputan mendadak.
“Musti mbah harto, nih!” pikir saya dalam hati. Ehh…ternyata bener feeling saya itu. Kantor Jakarta katanya Siaga I. Saya bersama yang lain (kami berlima satu tim) harus stand by di Solo. Jaga-jaga kondisi Pak Harto yang katanya lagi kritis di RSPP Jakarta. Kalau-kalau Pak Harto mangkat, pasti dibawa melewati Solo sebelum dimakamkan di Karanganyar.
Sehabis kordinasi singkat Sabtu sore itu, malamnya melajulah saya ke Solo naik motor diiringi rintikan gerimis mengundang. Pagi harinya nyanggong di Ndalem Kalitan -kediaman pribadi almarhum Bu Tien Soeharto di kampung Kalitan, Laweyan, Solo. Siap-siap juga ke Astana Giri Bangun -kompleks makam pribadi keluarga Soeharto- di Matesih, Karanganyar.
Karena tugas mendadak itulah, saya absen ngeblog 2 hari kemarin. Sempet mampir ke warnet, tapi sekedar cek email dan kirim berita. Jadi tidak sempet ngecek blog. Maaf kalau beberapa komentar yang masuk baru di approve hari ini. Sekali lagi, MAAF
Rz, nyanggong-di-ndalem-kalitan
Januari 12, 2008 pada 11:39 am
Jadi udah antisipasi ‘mangkat-nya’ pak Harto ya?
*****
yah begitulah. jurnalis kan gak boleh kelewatan momen
Januari 14, 2008 pada 3:29 am
resiko boz…
yukk ahh ke atas lagi
jahh gw malah komen blog lu terus. gapapa dah sambil nunggu kirim foto
busyeett…lemott booo
(