Sesuai janji sebelumnya, sore itu saya datangi rumahnya di jalan Kaliurang km 10, Sleman, Yogyakarta. Rumah mungil berkamar dua itu tepat menghadap ke utara, ke arah gunung Merapi. Sekelilingya asri dengan pemandangan sawah yang tak begitu lebar di depan rumahnya. Udara sejuk bisa saya hirup disini. Benar-benar hunian yang nyaman.

“Silakan duduk mas” katanya mempersilahkan saya duduk.

“Kalau gak ada kabut pagi hari, kawah Merapi keliatan jelas banget dari sini mas!” tambahnya lagi sembari menunjukkan jarinya ke arah utara.

Lalu dia meletakkan dua cangkir jahe hangat untuk kami. Sepiring jadah tempe, makanan khas Kaliurang yang khusus dibeli untuk menyambut saya, menemani obrolan kami sore itu.

Di teras depan, saya dan dia duduk di kursi rotan dengan meja persegi diantara kursi kami. Saya mulai mewawancarai dia. Di rumah ini dia tinggal sendirian, tanpa ada pembantu sekalipun.

“Gue sendirian disini mas. Sejak dateng ke jogja tahun 2006. Kalo ada yang nginep, paling semalem doang!” tambahnya lagi.

“Semua gue urus sendiri, ga pake pembantu”.

Tapi ia mengaku juga kepada saya, pernah suatu saat teman dekatnya dari Singapura tinggal disini sebulan.

“Dulu ada temen gue dari Singapura, cowok, nginep disini sebulan. Mas taulah apa yang gue lakuin ama dia selama itu” ucapnya sambil nyengir.

“Hah..cowok!!” tanyaku keheranan.

“Lah emang kenapa” pungkasnya sambil memotong keheranan saya.

Raven, 30 tahun. Pria lajang asal Jakarta ini jebolan Teknik Sipil Universitas Indonesia. Bekerja di sebuah konsultan asing, dia dipercaya memimpin kantor cabang perusahaan tempat ia bekerja di Yogyakarta. Pernah beberapa bulan ditempatkan di Kalimantan Timur. Raven sadar dia menyukai sesama pria sejak SMA. Namun ia masih menyukai wanita.

“Gue bi, mas!”.

Ya, Raven seorang biseksual. Ia menikmati hubungan seksual dengan pria, juga wanita. Raven bukan tidak tahu kalau perilaku seksualnya itu rawan penyakit menular. Dia cukup sadar AIDS mengintainya tiap kali memagut nafsu birahi dengan partner seks nya.

Raven melanjutkan “Gue biasa tuh mas, kenalan di ceting, trus ketemuan, sms-an, abis itu kita em-el beberapa hari kemudian” ujarnya.

Raven begitu mudah mencari kehangatan dari wanita, pun juga pria. Raven pun mengaku begitu mudah mendapat mangsa dari diskotek dan chatting.

Saya tak heran dengan kemudahan itu. Sepintas saya perhatikan perawakan Raven, badannya terlihat sangat terawat dan berkulit bersih. Otot lengannya terlihat keras dan berbentuk, seperti orang yang selalu rajin mengunjungi tempat fitnes. Perawakannya serasi dengan postur tubuhnya yang saya taksir setinggi 175 cm, dan berat sekitar 60-65 kg. Potongan rambutnya trendy. Agak di highlight pirang bergaya harajuku.

“Siapa sih yang gak mau ama gue, mas?. Gue gak jelek jelek amet, body oke. Lah gue rajin fitnes kok” tuturnya.

Suasana pun mulai cair. Saya mulai berani bertanya lebih jauh soal kehidupan seks nya.

“Seberapa sering ngeseks?”

“Emm….paling gak seminggu sekali lah. Gak bisa nahan gue! Entar bawaannya uring-uringan” timpalnya

“Pake kondom?” tanyaku.

“Ya iyalah. Emang gue bego apa mas!” jawabnya singkat.

Raven lalu menceritakan bahwa ia memilih memakai kondom, karena mereka itu sama seperti Raven, petualang sex. Suka gonta-ganti pasangan, one night stand.

“Apalagi gue yang bukan ama cewek aja tapi juga cowok”

Raven hingga kini betah melajang. Ia belum tahu kapan menyudahi kehidupan lajangnya itu. Sudah tiga tahun ia terus bergulat dalam keraguan statusnya sebagai pria sejati. Ya, karena dia masih menyukai pria disamping wanita. Tahun 2004, pacarnya di Bandung, Eka namanya, pernah mengajaknya menikah. Raven menolak.

“Gue gak mungkin boongin dia, kalo gue butuh belaian cowok, mas!” jawabnya.

Itulah yang membuat Raven kerap tak betah lama-lama jika pulang ke rumahnya di Jakarta saban lebaran tiba. Bertubi-tubi Raven mendapat pertanyaan yang sama yang selalu ia dapati sejak tiga lebaran yang lalu.

“Kayak iklan Agus Ringgo, keluarga gue nanya mulu kapan kawin?”.

Kembali ke soal kondom, saya ingin tahu kenapa Raven memilih pakai kondom selama beraktivitas seksual dengan partnernya.

“Kenapa pake kondom? Kata orang rasanya gak senikmat kalo gak pake kondom?” tanyaku.

“Gue takut kena penyakit, mas!. Orang kayak kita gini, resiko AIDS kita tinggi. Kalo mereka gak mau gue pake kondom, mending gak usah”.

“Gue onani, selesai” jawabnya singkat.

Raven kemudian melanjutkan ceritanya tentang seorang kawan baiknya. Ghia, bukan nama sebenarnya. Ghia seorang gay tipe BOT. Penampilannya kemayu, dan sering dipanggil “congg..!!” oleh sohibnya. Ghia Sering gonta-ganti pasangan demi memenuhi hasrat seksualnya. Ghia wafat di usia 35 tahun, saat dokter memvonisnya terinfeksi AIDS dua tahun sebelumnya.

“Dia tuh selalu nyobain cowok setiap dia singgah di kota tertentu” tutur Raven.

Ghia mirip dengan Raven. Bedanya, Ghia cuma bergumul gonta-ganti sesama pria. Sedangkan Raven; ya pria, ya wanita. Tapi Raven mulai sadar pentingnya kondom sejak Ghia wafat tahun 2002. Raven kini aktif dalam suatu organisasi yang mengampanyekan pentingnya kondom di kalangan orang-orang dengan preferensi seksual berbeda; gay, lesbian, biseksual, transgender. Raven menolak mereka yang kerap diinisialkan dengan LGBT, termasuk dia, disebut memiliki perilaku seksual menyimpang.

“Gak pake kondom, umur gue menghitung hari”

“…hahahaha…” jawabnya sambil tertawa dan kemudian bersenandung menyayikan lagu Krisdayanti.

“menghitung hari….detik demi detik…”

Bagi Raven, menjadi petualang seks masih dilakoni hingga kini. Pengakuannya kepada saya, paling tidak tiap akhir pekan dia selalu melampiaskan hasrat seksualnya. Sudah addict katanya. Meskipun saban tahun, dia selalu berusaha mengekang habis-habisan nafsu birahinya sebulan penuh selama bulan puasa. Raven tahu kapan ia harus mendekatkan diri kepada-Nya.

“Gue cuma pingin suatu saat bisa hidup normal, punya keluarga” tutupnya menyudahi perbincangan kami.

Catatan: Wawancara ini saya lakukan tanggal 1 Desember 2007. Sesuai kesepakatan kami, ia bersedia wawancara ini dimuat, asalkan nama, tempat tinggal, dan semua lokasi yang diceritakan dalam wawancara ini disamarkan.

 

Rz, not-condom-user


  1. Denk

    Hmm….yg diwawancara pengidap aids ya?

    posting bagus lho

    Rz: bukan, tp beresiko tinggi kena AIDS
    thx komennya

  2. agustusnugroho

    Hm.. good posting.

  3. extremusmilitis

    sebuah pengakuan yang menarik :roll:

  4. Mrs.Fortynine

    *ngiler ketemu Raven* :mrgreen:

    jangan jangan, yang diwawancarain si eMus™ ya? (fyi, eMus™ itu komentator atasku itu lho)

    sip tuh… ada ide kayak gini juga? lain kali, posting ttg mereka yang kerja di lokalisasi donk… pengen denger juga neh… ;)

    Rz : bener mau ketemu Raven??? ntar kesengsem gantengnya lho
    sipp..tar deh nyoba dicari yg di lokalisasi

  5. Hanster

    Haduwh haduwh parah bgt dah tuh orang..

    => Hansteru WebBlog <=

  6. kamal87

    wah… keren2 postingannya.

    tukeran link yuk
    kamal87.wordpress.com

    Rz: makasih
    monggo dilink

  7. morissupersaiya™

    kirain wawancara sama ODHA..
    ternyata sama orang yang rentan terkena AIDS.. :-D
    salam kenal, mas..

  8. syafriadi

    semonga keinginannya cepet kesampean ya :)

  9. rara

    nice posting.. :)
    keren! salute! :)

  10. GRaK

    wah wawancara yang keren.
    wah anda bisa dapat narasumber dia, kayaknya anda paham dengan komunitas mereka yah?

    Rz: makasih GRak
    yah, sedikit-2 paham lah

  11. manusiasuper

    Nice job Boss!! Salute!!

  12. mutia

    tp jgn dimenjadikan kondom sebagai pembenaran akan free-sex

    -trimakasih kunjungannya.. salam kenal juga-

  13. edratna

    Kita bisa memahami ada orang yang menjadi bi…tapi kalau menjadi free sex, walaupun pake kondom risikonya tetap tinggi.

  14. Sor Mahbub

    mau pakai kondom mau tidak pakai, suka-suka mrk saja. pasti sdh tahu bahayanya bkn cuma enaknya saja.

    Salam,
    Mahbub
    [wongarabndeso@lycos.com]

    Rz: ahlan wa sahlan akhi Mahbub
    yap, saya setuju juga, gak enak and enak kudu dipikir bareng

  15. Resi Bismo

    Ngeri banget gue bacanya.

    Salam,
    boss Ario, pencinta wanita.

    Rz: tapi bukan bukan buaya kan? [Lagunya Pencinta Wanita: Irwansyah]

  16. reeyo

    kalau udah ODHA baru nyadar…, kalo belom yah gitu

  17. putirenobaiak

    wawancaranya hebat mas,

    ’suatu hari’ adalah kata-kata menghibur diri yg biasa diucapkan manusia kalau merasa bersalah, tak kan pernah terjadi kalau tak diganti ’sekarang’.

    *****

    soal “suatu hari” itu, hmmm..bener juga yah :d

  1. 1 Pekan Kondom Nasional??? « DeTekSi

    [...] Kurang kerjaan ajah! Bukannya gak simpatik dengan penderita AIDS atau orang yang memiliki resiko tinggi tertular dan atau menularkan AIDS, cuman menurutku hal ini terlalu [...]



Leave a Comment