Runtuhnya Popularitas Kabinet SBY-Boediono

Posted in opini, politik on September 22, 2011 by rezco

Kasus korupsi di dua kementerian ikut memperburuk citra kabinet

Popularitas Kabinet pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) –Boediono kian merosot di mata publik. Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja kabinet menunjukkan tren yang menurun menjelang dua tahun jalannya pemerintahan SBY-Boediono.

Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mencatat, pada Januari 2010 saat pemerintahan SBY-Boediono baru berusia 100 hari, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kabinet SBY-Boediono berada di angka 52,3%. Pada September 2010 ketika pemerintahan sudah berjalan selama satu tahun, tingkat kepuasan tersebut menurun di angka 46,5%.

Tren penurunan tersebut berlanjut menjelang dua tahun berjalannya pemerintahan SBY-Boediono. Hasil survei LSI terbaru menunjukkan tingkat kepuasan terhadap kabinet SBY-Boediono berada di angka 37,7 %. Sehingga dalam waktu kurang dari dua tahun saja terhitung sejak 100 hari jalannya pemerintahan SBY-Boediono, popularitas kabinet terjun bebas sebanyak 15%. Survei LSI itu dilakukan pada tanggal 5-10 September 2011 dengan mewawancarai 1200 responden dari 33 propinsi menggunakan metode multistage random sampling.

Kontribusi turunnya popularitas kabinet SBY-Boediono bersumber dari para menterinya sendiri. Kasus korupsi di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang menyeret Menpora Andi Alfian Mallarengeng, dan kasus serupa di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) yang menyeret Menakertrans Muhaimin Iskandar paling andil dalam merosotnya popularitas kabinet SBY-Boediono.

Meski proses hukum yang berlangsung di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum menemukan keterlibatan keduanya, tetapi gencarnya pemberitaan kasus korupsi di dua kementerian tersebut selama beberapa bulan terakhir secara tidak langsung ikut mempengaruhi persepsi  publik terhadap kabinet.

Hal lain yang ikut berkontribusi merontokkan popularitas kabinet adalah kinerja beberapa menteri yang dinilai tidak berhasil sesuai terget dan tidak memuaskan publik. Dalam katergori ini Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mendapat sorotan karena kebijakan remisi koruptor yang dianggap tidak pro pemberantasan korupsi.  Menakertrans Muhaimin Iskandar juga disorot karena gagal melindungi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri dengan mencuatnya pemberitaan pemancungan Ruyati, TKI di Arab Saudi.

Tak hanya dua hal itu, persoalan yang menyangkut wilayah pribadi menteri pun seperti isu perselingkuhan, poligami dan kesehatan juga ikut memberikan kontribusi bagi merosotnya popularitas kabinet SBY-Boediono.

Merosotnya popularitas kabinet SBY-Boediono sebanyak 15 %, dari 52,3% di 100 hari pertama pemerintahan menjadi hanya 37,7 % menjelang dua tahun berjalannya pemerintahan adalah warning bagi presiden. Presiden harus segera melakukan penataan kabinet kalau tidak ingin di sisa tiga tahun pemerintahannya, popularitas kabinet terus merosot di mata publik. Reshuffle menteri sebuah keharusan jika presiden tidak ingin jalannya pemerintahan terbebani oleh menteri yang bermasalah.

KLENTENG KU TAK LAGI UTUH

Posted in artikel, berita dengan kaitan (tags) , , , on Mei 4, 2009 by rezco

klenteng

Pria paruh baya itu serius menghadap altar pemujaan. Matanya memejam. Kedua tangannya diangkat setinggi wajah sembari mengayun-ayunkan dua batang dupa bakar dalam gengamannya. Aroma wangi pun menyeruak di klenteng. Ia larut dalam ritual sembahyang seolah tak terpengaruh riuh ramai pedagang di luar pagar klenteng berusia lebih dari seabad itu.

Nama asli klenteng itu Zhen Ling Gong. Orang kebanyakan lebih mengenalnya dengan Klenteng Poncowinatan karena letaknya di jalan Poncowinatan. Klenteng tua di utara Tugu Yogyakarta ini sudah ada sejak tahun 1897 dan merupakan klenteng tertua di Yogyakarta. Lokasinya berhadap-hadapan dengan Pasar Kranggan, dipisahkan oleh jalan selebar 5 meter. Kondisi bangunannya sebagian masih asli seperti ketika dibangun pertama kali dulu.

“Awalnya Sultan HB VII memberikan tanah seluas 6.244 meter persegi kepada orang tionghoa. Di tanah itulah lalu didirikan klenteng,” kata pria itu. Ia adalah Ziput Lokasari, pengurus Yayasan Bakti Loka yang menanungi Klenteng Poncowinatan dan Klenteng di Gondomanan.

Menurut cerita Ziput, sekira tahun 1860-an di kawasan sebelah utara Tugu Yogyakarta ditetapkan sebagai kawasan penduduk tionghoa oleh Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Diatas Sultan Ground (tanah keraton/milik sultan) yang diberikan itulah, pertama-tama orang tionghoa mendirikan tempat peribadatan mereka yakni Kauw Lang Teng, yang kemudian mengalami perubahan penyebutan menjadi Klenteng.klenteng2

“Mereka bahu-membahu mendirikan klenteng dengan uang mereka. Sumbangan itu dikumpulkan dari yang terkecil 5 sen sampai 300 gulden. Itu arsipnya masih ada,” katanya lagi.

Selesai membangun klenteng, pada tahun 1907 orang tionghoa juga memikirkan pendidikan bagi mereka. Lantas sekolah modern tionghoa pertama di Yogyakarta dibangun di kawasan klenteng. Namanya Tiong Hoa Hak Tong (THHT) yang menginduk pada Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Batavia. Bangunan THHT berdiri di sebelah barat klenteng. Sehingga di kawasan yang sejak tahun 1923 tercatat sebagai China Temple, ini kemudian terbagi menjadi tiga: bagian tengah untuk rumah ibadah seluas 2.000 meter persegi, sebelah barat untuk sekolah seluas 1.200 meter persegi, sisanya untuk tempat olahraga dan kebudayaan.

Pengelola THHT dan klenteng orang yang sama. Selain dikelola etnis tionghoa, keduanya memang sedari awal satu bagian dalam kawasan klenteng. Ziput memastikan itu dengan menunjuk sebuah akta pendirian sekolah dalam bahasa Belanda yang sudah diterjemahkan baru-baru ini. Dalam akta Nomor 24 tertanggal 19 Juni 1907 itu, disebutkan pendirian THHT dimaksudkan untuk menyebarkan ajaran Konghucu lewat sekolah yang dibuka di klenteng.

Tapi sekolah THHT sudah tidak ada lagi. Pengelolaan sekolah berganti-ganti, sejak pemerintah Belanda mendirikan Holland Chinese School (HCS ), dan kemudian melarang pengelolaan sekolah oleh etnis tionghoa. Terakhir, pada tahun 1970 pengelolaan sekolah dikuasai oleh Yayasan Budya Wacana (YBW). Sekarang ini klenteng diapit ketat oleh sekolah Budya Wacana di sebelah barat, dan sebelah timur berdiri Sekolah Bhineka Tunggal Ika.

klenteng-baru-4Setiap imlek dan hari-hari keagamaan bagi orang tionghoa, klenteng ini ramai dikunjungi. Klenteng ini juga menarik perhatian wisatawan lantaran termasuk salah satu bangunan tua di Yogyakarta. Beberapa pihak mengusahakan klenteng ini ditetapkan sebagai kawasan heritage alias benda cagar budaya.

Namun sejak tahun 2007 ketenangan umat di klenteng terusik. Sengketa antara Yayasan Bakti Loka (YBL) sebagai pengelola klenteng dengan Yayasan Budya Wacana (YBW) sebagai pengelola sekolah Budya Wacana menjadi pemicunya. Pihak klenteng menuding telah terjadi perusakan klenteng Poncowinatan sebagai benda cagar budaya oleh pihak YBW.

Semuanya berawal sejak gempa yogyakarta pada 27 Mei 2006 lalu. Pasca gempa besar itu, pihak YBW merasa gedung tua yang mereka tempati tidak lagi aman lantaran banyak kerusakan akibat gempa. YBW lantas merenovasi bangunan sekolah dengan merubuhkan bangunan lama. Diatas tanah itulah kemudian didirikan bangunan tiga lantai sebagai bangunan sekolah yang baru.

Langkah YBW merubuhkan bangunan sekolah, belakangan dipersoalkan. Pihak YBL menganggap YBW telah merusak sebagian kawasan klenteng. Beberapa surat rekomendasi yang dikeluarkan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta menyatakan bahwa kawasan kelenteng itu telah menjadi kawasan cagar budaya. YBL pun beranggapan sekolah Budya Wacana menempati tanah dan bangunan yang semula adalah bagian dari klenteng. Pihak klenteng makin yakin, perubuhan bangunan sekolah yang lama dianggap sebagai perusakan atas bagian klenteng.

YBL punya dalil kuat dibalik tudingan perusakan itu. Menurut Ziput, selama ini sekolah Budya Wacana memang tidak terpisahkan dengan kawasan klenteng. Bangunannya pun menyatu dengan klenteng.

“Bangunan sekolah awalnya bagian klenteng,” terang Ziput sembari menunjukkan sebuah foto kawasan klenteng tahun 1950-an. Dalam foto itu memang terlihat tidak ada pemisah antara bangunan sekolah dengan klenteng. Tapi, sejak bangunan sekolah Budya Wacana yang baru berdiri, klenteng dan sekolah seolah terpisahkan.

YBW leluasa merubuhkan bangunan lama kabarnya karena mengantongi izin dari Pemkot Yogyakarta. Pihak yang menentang pembangunan sekolah Budya Wacana pun kemudian mengajukan gugatan soal pemberian izin ini. Sidang gugatan YBL atas Pemkot Yogyakarta di PTUN memutuskan pembangunan sekolah tidak boleh dilanjutkan sembari menunggu keputusan apakah kawasan klenteng termasuk benda cagar budaya atau tidak.

Namun, YBW tidak menggubris dan terus melakukan pembangunan gedung sekolah. Bahkan pihak YBW menolak tudingan merusak cagar budaya. Pihak YBW beralasan belum ada keputusan resmi apakah kawasan klenteng Poncowinatan termasuk cagar budaya atau tidak.

Pihak YBL ganti membantah alasan yang dikemukakan YBW. Mereka beranggapan, kendati klenteng Poncowinatan belum berstatus sebagai benda cagar budaya, bukan berarti pihak YBW bisa seenaknya merubuhkan bangunan sekolah yang lama, yang menurut mereka satu kesatuan dalam kawasan klenteng. “Kalau belum cagar budaya, toh bangunan itu sudah berumur diatas 50 tahun. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992, bangunan yang berumur lebih dari 50 tahun dianggap bangunan cagar budaya,” ujar Ziput lagi.

Pekan lalu, bersama Komisi II DPRD Yogyakarta, pihak yang menentang perusakan klenteng juga mengadukan Pemkot Yogyakarta ke UNESCO, Dinas Pariwisata Seni dan Budaya DIY, serta ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta atas dugaan ikut andil dalam perusakan klenteng. BP3 DIY memutuskan akan melakukan kajian terhadap status kawasan klenteng Poncowinatan apakah layak ditetapkan sebagai benda cagar budaya atau tidak.

klenteng4Sayangnya kawasan itu sudah tak utuh lagi. Sekolah dan klenteng terpisah, bahkan sebagian bangunannya telah hancur. “Yang tertinggal hanya separuh, kelentengnya saja,” tutur Ziput

Gedung baru sekolah Budya Wacana itu kini terlanjur selesai dibangun. Ia berdiri kokoh disamping klenteng. Tembok menjulang tinggi selebar 60 cm memisahkan keduanya.


Rz, suka-liat-bangunan-tua

DEWI

Posted in curhat dengan kaitan (tags) , , on November 26, 2008 by rezco

dewi

Dewi…/ Bukalah kedua matamu / Pandanglah ruang di hatiku

Dewi…/ Berikan nafasmu untukku / Agar ku hidup bersamamu..

Bersamamu..

Terus bersamamu..

Rz, kangen-dewi

Kemenangan Obama

Posted in artikel, berita, kehidupan, opini, politik dengan kaitan (tags) , , , , , , , , , , , on November 8, 2008 by rezco

obama-menteng1

Siapa sangka ekspresi wajah bocah-bocah SD Menteng yang sedang teriak kegirangan bakal muncul di halaman depan koran NY Times, salah satu koran terbesar di negeri AS sana.

Obama memang sukses mencetak sejarah : Presiden AS pertama berkulit hitam dan keturunan Afro-Amerika. Fakta lainnya, meski tidak penting juga, ia memiliki darah Islam dari garis Ayah dan pernah tinggal di Indonesia dan sebentar mencicipi bangku sekolah di Indonesia. Yang terakhir mungkin alasan kenapa bocah-bocah SD Menteng muncul di NY Times.

Soal kemenangan Obama saya menilainya biasa saja. Pertama, mungkin karena kesuksesan Obama merambah dunia maya untuk medium kampanye. Kedua, Ia juga berhasil merangkul suara kaum muda. Mereka itu pemilih pemula dan jumlahnya mendekati 20 persen dari total pemilih dalam Pilpres AS. Jumlah itu cukup signifikan, mengingat partisipasi warga AS dalam Pemilu cukup rendah, yakni 40 persen.  Ia juga berhasil merebut hati kelompok minoritas, oposisi, dan kaum perempuan yang belum memutuskan pilihan hingga detik-detik terakhir pencoblosan.

Ketiga, Republikan salah memasang kandidat. Mc Cain- Palin relatif kalah bila disandingkan dengan kandidat Demokrat Obama-Biden. Meskipun perlu dicatat, Biden hanya sedikit kontribusinya dalam kemenangan Obama.

Mc Cain sosok orang tua konservatif, gaya bicaranya kaku dan tidak menawarkan sesuatu yang kongkrit bagi calon pemilih. Ia hanya dihormati sebagai pahlawan perang Vietnam lantaran pernah mendekam di tahanan Vietkong selama hampir 5 tahun. Kesan kaku Mc Cain tampak pada 3 kali debat pre-election yang secara gemilang dimenangkan oleh Obama. Konservatif jelas tak memberi harapan bagi warga AS yang sedang dirundung masalah. AS sedang goyah akibat krisis finansial, pengangguran melonjak drastis, dan jumlah utang menumpuk akibat perang di Irak dan Afghanistan.

Obama dengan semboyan Yes, We Can dan Change We Need bagaikan spirit baru bagi warga AS yang sedang murung dan menginginkan harapan. Satu alasan yang masih harus diverifikasi, katanya, beberapa orang tua prajurit AS yang diterjunkan di Afghanistan dan Irak, memilih Obama lantaran ingin anaknya segera ditarik dari medan perang.

topi-jacky-kennedy1

Bagaimana Palin? Bagi saya, dia hanya sukses memelopori trend baru busana dan kacamata wanita. Kejadian yang mirip dengan kepeloporan gaya topi dan kacamata besar Jacqueline Kennedy, istri mendiang Presiden John Kennedy di era 60-an. Sementara Biden sepertinya hanya sekedar pelengkap persyaratan Obama menjadi Capres.

Gelombang dukungan orang-orang kaya di AS dan sejumlah tokoh berpengaruh, juga salah satu faktor kemenangan Obama. Berkat dukungan itu, dana kampanye Obama sanggup menembus rekor hingga 1 Miliar Dollar AS. Padahal, pada Pemilu 2004 lalu, Komisi Pemilihan Federal melansir total dana kampanye dari kandidat Bush dan Kerry hanya mencapai 693 juta dollar AS.

Kemenangan Obama bukan karena keberhasilan ia seorang dan tim suksesnya plus Partai Demokrat. Tapi, ada gelombang dukungan yang tidak terkira yang membantu Obama untuk mencapai White House.

Rz, bukan-lulusan-SD-Menteng

Blog dan Saya

Posted in Blog, internet, kehidupan dengan kaitan (tags) , , , , , on Oktober 28, 2008 by rezco

Berapa lama ngeblog? Buat saya, jawabannya bisa dua macam. Tahun 2002 saya pertama kali mengenal apa itu blog di blogger.com setelah membaca lembaran koran khusus dunia perkomputeran. Mencoba buat account disana tapi, boleh percaya atau tidak, account itu terabaikan hingga bertahun-tahun lamanya.

Tahun 2007 saya kenal wordpress dan tertarik mencobanya. Jadilah sejak saat itu hingga sekarang saya ngeblog disini. Dus, sejak itu pula saya mulai punya koneksi internet lebih dari cukup — dan menunjang — untuk ber-blogging ria.

Kenapa ngeblog? Bagi saya yang tergolong pemula, ada keasyikan tersendiri ketika bisa beropini tentang suatu hal. Selesai ditulis, lalu diposting dan mendapat tanggapan pembaca, itu menambah keasyikan lain. Inilah yang membuat saya tetap suka menulis di blog -walau tak rutin, meski menulis sudah jadi rutinitas harian demi menyambung “nafas” hidup. Saya bangga bisa ngeblog, dan belum pas disebut blogger.

Buat saya, ngeblog masih sekedar hobi. Memindahkan medium beropini dari sekedar lisan ke sebuah tulisan yang bisa dibaca orang. Belum bisa lebih dari itu. Semisal melanjutkan pertemuan di dunia nyata alias kopdar.

Namun itu tetap sesuatu yang saya inginkan kelak. Karena itu, malam tadi saya singgah sejenak di Angkringan Umar Kayam, di syukuran Hari Blogger Nasional. Tidak lama juga. Hanya sempat bersalaman dengan Momon dan bertemu beberapa kawan lama.

Blog sudah menjadi lifestyle kaum urban. Koneksi internet sudah masif sampai ke pelosok desa-desa. Area wifi/hotspot sudah banyak ditemui. Yang penting sekarang ini, bagaimana blogger dan aktivitas ngeblog bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan. Seperti tema yang diusung pesta blgger 2008 : “blogging for society” . Dan, sebagai lifestytle baru, semoga aktivitas ngeblog bisa berada dalam barisan gaya hidup konstruktif.

Selamat hari blogger!

Semoga blog bisa memberi warna baru dalam kehidupan.

Rz, berhasrat-dateng-pesta blogger 2008

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.